Dakupoenya's Blog

Semua Yang Baru oke Poenya

Konseling Bagi Kaum Muda

Pentingnya Konseling dalam Pelayanan Kaum Muda
Posted 01 Juli 2009 by Safril

Siapakah kaum muda? Apakah mereka begitu penting? Apa yang mereka hadapi? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin merupakan pertanyaan sederhana dari kehidupan sehari-hari. Tidak ada yang spesial dalam hal ini mungkin, karena tidak semua orang tertarik untuk memperhatikan mereka secara khusus. Secara umum, kaum muda adalah orang-orang yang baru keluar dari masa remaja kepada masa dewasa, dengan umur sekitar 17-30 an, kira-kira merupakan anak-anak yang baru saja lulus SMU. Lalu, apa yang menarik dari mereka? Toh semua orang pun pernah mengalami masa-masa tersebut. Memang pergumulan pemuda secara umum saat ini masih sama seperti generasi sebelumnya, yaitu:
1. Identitas: Siapa aku, dan apa tempatku dalam masyarakat?
2. Pasangan hidup: Apakah aku akan mendapatkan seseorang yang mengasihi aku?
3. Decisive Years: Tahun-tahun penentuan arah hidup pemuda menuju stagnasi atau generous
Namun ada beberapa hal yang telah berubah dari masa sebelumnya, yaitu kehadiran budaya kota dan teknologi modern yang ternyata mudah sekali diserap oleh kaum muda masa kini.
Ciri-ciri budaya kota:
1. Tergesa-gesa dan serba instant
2. Individualis
3. Mobilitas tinggi
Budaya kota ini telah mengakibatkan serangkaian pengaruh buruk bagi pemuda, yaitu:
– Para pemuda harus mengambil berbagai keputusan secara bertubi-tubi, setiap hari, setiap waktu dalam hidup mereka dihadapkan oleh pilihan
– Kurang dekat dengan orang lain, relasi telah menjadi persamaan tujuan dan kepentingan
– Tidak terdorong dan tidak cukup waktu merenungkan makna hidup dan keberadaannya
– Mau menghasilkan segala sesuatu dengan instant, dan kurang mau berjuang untuk menguasai sesuatu yang bernilai tinggi, lebih menyukai mengerjakan yang mudah untuk mencapai hasil yang praktis.
Kemudian juga dengan munculnya era informasi menggantikan era teknologi yang menginvasi para pemuda dengan Televisi, Internet, MTV, dan lain sebagainya ternyata telah mengakibatkan perubahan yang sangat besar bagi kaum muda dewasa ini. Belum pernah dalam sejarah dunia ini, kaum muda diperhadapkan dengan 1001 kesempatan untuk dapat memilih satu dari 1001 identitas yang diinginkannya. Begitu banyak pilihan. Untuk pertama kalinya juga kaum muda dapat memilih dan menikahi pasangan hidup mereka sendiri tanpa pernah bertemu secara muka dengan muka, alias hanya bertemu secara maya saja di internet. Dan belum pernah pula dalam sejarah kaum muda memiliki tingkat kesulitan yang demikian sulit untuk bisa bertahan hidup dalam persaingan merebut tempat dalam komunitas. Kaum muda saat ini bukan saja dihadapkan dengan keputusan yang bertubi-tubi, namun juga teramat kompleks dan membingungkan karena saat mereka membutuhkan jawaban, yang diperoleh adalah teguran, amarah atau kesepian karena budaya kota yang individualis juga menyerang keluarga. Akhirnya mereka berpaling pada teman-teman mereka, pada pola pergaulan yang negatif, dan saat orang tua mereka sadar, seringkali sudah terlambat. Karena anak-anak mereka telah menjadi korban budaya jaman ini.
Maka akhirnya munculah suatu prinsip penting dalam pelayanan kaum muda yaitu:
No Relationship = No Ministry
(Tanpa hubungan, tidak mungkin ada pelayanan kaum muda)
Kemudian munculah pertanyaan selanjutnya, “OK, hubungan itu penting, namun apakah harus dengan konseling? Bukankah banyak anak muda yang berhasil dalam hidupnya tanpa konseling? Dapatkah kaum muda ditolong dengan menggunakan Injil saja, atau dengan Firman Allah saja? Bukankah Kristus telah menyelamatkan kita, menebus kita secara penuh, dan menjadikan hidup kita sama sekali baru?” Tentu saja penebusan Kristus tidak lagi perlu ditambahkan apapun agar kita menerima karunia keselamatan. Dan tentu saja Firman Allah yang hidup adalah cukup untuk menjawab segala permasalahan hidup manusia. Pertanyaan yang sesungguhnya adalah How? Bagaimana Firman Tuhan dapat menjadi pengubah hidup kaum muda?
Dalam bukunya, “Siapa Anda Sesungguhnya”, Dr. Neil T. Anderson mengatakan bahwa pemuridan atau Pemahaman Alkitab (PA) akan gagal tanpa memahami terlebih dahulu keadaan orang yang dimuridkan dan tanpa menerima terlebih dahulu apa adanya dirinya. Beliau juga mengatakan bahwa pertumbuhan rohani tidaklah hanya sekedar membimbing mereka dalam kelompok PA. Mereka juga memerlukan konseling. Demikian juga menurut David E. Carlson. yang mengatakan bahwa ada saatnya di mana upaya Penginjilan dan pengajaran Firman menjadi terbatas dan tidak efektif. Kaum muda tidak tertarik dan tidak ingin diajar. Dalam situasi seperti inilah pelayanan konseling menjadi sangat berguna untuk menolong mereka.
Prinsip utama Konseling Kristen mendefinisikan bahwa semua permasalah hidup manusia timbul karena dosa dan karena itu, satu-satunya penyelesaian masalah yang efektif dan permanen adalah dengan kelahiran kembali dan setelah itu hidup berjalan bersama Allah setiap waktu. Artinya Konseling Kristen mengandalkan Firman Allah untuk menjawab permasalahan hidup manusia, dengan ilmu psikologi sebagai “tambahan” yang dimanfaatkan untuk melengkapi pengetahuan konselor-konselor Kristen dalam mendalami masalah di balik tingkah laku manusia yang kompleks ini. Di sinilah Firman Tuhan memang digunakan dengan cara konseling untuk menolong kaum muda.
Melihat hal ini, sudah selayaknyalah gereja menempatkan konseling sebagai salah satu pelayanan yang tidak bisa tidak ada dalam pelayanan kaum muda. Namun saat ini, fakta di lapangan memang menunjukkan bahwa konseling di gereja rata-rata berada di pundak para hamba Tuhan penuh waktu. Selain tugas mereka yang cukup disibukkan dengan berbagai aktivitas gereja, berkhotbah, mengatur organisasi gereja, mereka juga harus menyediakan waktu mereka untuk menerima konseling jemaat, yang bukan hanya terdiri dari anak muda saja, melainkan juga sampai ke kaum usia senja.
Di samping kesibukan para hamba Tuhan, masalah lain yang terjadi pada kaum muda adalah keengganan mereka untuk berbicara dengan hamba Tuhan. Hamba Tuhan sering digambarkan sebagai orang suci yang memegang “tongkat kerajaan Allah” yang akan menghajar mereka apabila mereka melakukan kesalahan. Atau sebagai orang luar biasa yang jauh sekali di atas mereka, tidak tersentuh dan tak terhampiri. Akhirnya mereka tetap mencari jawaban dalam kebingungan sesama kaum muda lainnya atau mencari pada sumber-sumber yang tidak dapat dipercayai kebenarannya, misalnya akhirnya jatuh pada ajaran yang menyimpang.
Namun keadaan ini tidak perlu terus berlaku seperti ini. Kaum awam dapat diperlengkapi untuk bisa melakukan tugas konseling dan masuk ke pelayanan kaum muda tanpa harus dicap suci/agung/jauh dan lain-lain. Asalkan kaum awam diperlengkapi secara benar dalam teologi maupun psikologi dan konseling Kristen, mereka dapat menjadi kekuatan yang dashyat yang membantu para hamba Tuhan menolong kaum muda.
Akhirnya, setelah kita mengamati kondisi kaum muda dewasa ini, melihat mengapa konseling merupakan hal yang penting dalam pelayanan kaum muda, dan mengamati kebutuhan akan konselor awam yang diperlengkapi dengan baik, muncullah pertanyaan yang paling akhir sebagai konklusi dari permasalahan di atas, yaitu: Bagaimana memperlengkapi kaum awam dengan benar secara teologi, psikologi dan konseling Kristen, agar mampu melayani khususnya kepada kaum muda sehingga masa depan gereja yang berada di tangan para pemuda dapat menjadi suatu masa depan yang penuh pengharapan akan kondisi gereja dan masyarakat yang membaik dari masa sekarang ini? Dan sesudah diperlengkapi, bagaimana kaum awam tersebut dapat dipergunakan oleh gereja untuk benar-benar terjun dalam pelayanan kaum muda, masuk dan menolong kaum muda? Jawaban dari pertanyaan pertama tentu terletak pada institusi pendidikan konseling dan para hamba Tuhan yang menguasai ilmu konseling Kristen. Sedangkan jawaban terhadap pertanyaan kedua terletak di tangan para pemimpin gereja yang mampu membuat pelayanan konseling oleh orang awam di gereja menjadi sesuatu yang dimungkinkan.

1 Juli 2009 - Posted by | Uncategorized

Sorry, the comment form is closed at this time.

%d blogger menyukai ini: